Lebih Memilih Membeli Waktu dan Profesional, atau Menunggu Waktu dan Profesional?
Di dunia kerja yang bergerak semakin cepat, ada satu pertanyaan sederhana yang mulai relevan bagi perusahaan:
“Lebih memilih membeli waktu dan profesional, atau menunggu waktu dan profesional?”
Pertanyaan ini bukan sekadar soal biaya. Ini tentang bagaimana perusahaan mengambil keputusan ketika kebutuhan datang lebih cepat daripada kemampuan internal untuk menanganinya.
Hari ini perusahaan membutuhkan training K3. Besok mungkin ada kebutuhan sertifikasi. Minggu depan supervisor membutuhkan pelatihan leadership. Departemen procurement membutuhkan peningkatan kompetensi. Tim HR perlu memahami hal baru. Bagian quality menghadapi tuntutan audit.
Semua kebutuhan tersebut tidak selalu datang sesuai kalender training yang sudah dibuat di awal tahun.
Dan ketika kebutuhan datang, perusahaan biasanya hanya memiliki dua pilihan.
Mencari solusi sekarang, atau menunggu sampai solusi tersedia.
Di sinilah pola perusahaan dalam menggunakan jasa profesional mulai berubah.
Perusahaan modern semakin memahami bahwa waktu adalah sumber daya yang terbatas. Tidak semua pekerjaan harus dikerjakan sendiri. Tidak semua kompetensi harus dibangun dari nol secara internal.
Ada kalanya keputusan yang lebih efisien adalah membeli waktu dengan memanfaatkan tenaga profesional yang sudah tersedia.
Salah satu contohnya adalah dalam pengembangan kompetensi karyawan melalui layanan training profesional.
Ketika Waktu Menjadi Lebih Mahal daripada Biaya
Sering kali ketika perusahaan ingin mengikuti training, perhatian pertama langsung tertuju pada biaya.
- Berapa harga programnya?
- Berapa biaya per peserta?
- Apakah ada diskon?
- Pertanyaan tersebut tentu penting.
Namun ada satu biaya lain yang sering terlupakan: “biaya waktu”.
Untuk mendapatkan satu program training pengelolaan SDM saja, HR bisa membutuhkan waktu untuk mencari provider, meminta proposal, membandingkan program, melakukan koordinasi dengan user, mengurus approval, menentukan peserta, sampai mengatur jadwal.
Kalau proses tersebut hanya dilakukan sekali, mungkin tidak terlalu terasa. Tetapi bagaimana jika terjadi berkali-kali dalam setahun?
Di perusahaan dengan banyak karyawan dan banyak departemen, kebutuhan training dapat muncul hampir sepanjang tahun.
Pada titik tertentu, perusahaan bukan hanya mengeluarkan uang untuk training. Perusahaan juga menghabiskan waktu untuk mengelola training. Padahal waktu HR seharusnya dapat digunakan untuk pekerjaan yang lebih strategis.
Menunggu Profesional atau Menggunakan Profesional?
Ada pekerjaan yang memang sebaiknya dilakukan oleh tim internal. Tetapi ada juga pekerjaan yang lebih efektif ketika ditangani oleh tenaga profesional.
Training adalah salah satunya.
Perusahaan dapat membangun trainer internal. Namun prosesnya membutuhkan waktu, pengalaman, materi, metode pembelajaran, evaluasi, dan pembaruan kompetensi trainer itu sendiri.
Tidak semua perusahaan memiliki kebutuhan dan sumber daya untuk melakukan semuanya secara internal.
Maka muncul pilihan yang lebih praktis:
Menggunakan profesional ketika dibutuhkan.
Konsepnya mirip dengan banyak perubahan dalam dunia bisnis saat ini. Perusahaan tidak selalu membeli dan memiliki semua sumber daya. Mereka menggunakan akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan.
Contohnya dapat kita lihat pada penggunaan konsultan, jasa teknologi, outsourcing, cloud service, hingga berbagai layanan profesional.
Pola yang sama mulai terlihat dalam pengembangan kompetensi. Daripada menunggu sampai memiliki semua sumber daya sendiri, perusahaan dapat bekerja sama dengan training partner yang memiliki tenaga profesional dan program yang dibutuhkan.
Perubahan Pola Membeli: Dari Memiliki Menjadi Mengakses
Inilah salah satu perubahan paling menarik dalam pola bisnis saat ini.
Dulu, perusahaan cenderung berpikir:
“Apa yang harus kami miliki?”
Sekarang semakin banyak perusahaan berpikir:
“Apa yang bisa kami akses ketika dibutuhkan?”
Perubahan ini terjadi karena kecepatan semakin penting. Teknologi berkembang cepat. Kebutuhan industri berubah. Regulasi berubah. Kompetensi yang dibutuhkan karyawan juga ikut berubah.
Jika perusahaan harus selalu menunggu sampai memiliki semua sumber daya internal, proses adaptasi bisa menjadi lebih lambat.
Dalam konteks training, perusahaan tidak harus memiliki semua keahlian di dalam organisasi. Yang lebih penting adalah memiliki “akses kepada profesional yang tepat pada saat yang tepat”.
Training Tanpa Batas Kuota: Perubahan Cara Mengakses Kompetensi
Training tanpa batas kuota merupakan pendekatan yang memberikan perusahaan fleksibilitas dalam memenuhi kebutuhan pengembangan kompetensi sesuai program dan ketentuan layanan yang disepakati.
Misalnya dalam satu tahun perusahaan membutuhkan:
- K3
- Leadership
- Procurement
- ISO
- HR
- Management
- Sertifikasi
- Soft skill
Dengan pendekatan yang lebih fleksibel, perusahaan tidak perlu selalu memulai proses pencarian provider dari awal setiap kali kebutuhan baru muncul.
Jika setiap kebutuhan harus dicari satu per satu, HR kembali mengulang proses yang sama. Dengan pendekatan yang lebih terintegrasi, perusahaan dapat memiliki partner yang dapat membantu memenuhi kebutuhan tersebut sesuai bidang dan program yang tersedia.
Di sinilah perusahaan sebenarnya sedang membeli sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar training.
Perusahaan sedang membeli kecepatan.
HSP Academy dan Ekosistem Training Profesional
HSP Academy menyediakan berbagai program training dan konsultasi profesional untuk kebutuhan perusahaan.
Beberapa bidang yang tersedia antara lain:
- K3 dan keselamatan kerja
- BNSP dan sertifikasi
- Sertifikasi & Lisensi
- ISO
- Human Resource
- Procurement
- Management
- Konstruksi
- Pertambangan
- Minyak dan gas
- Rumah sakit
- Food safety
- Marketing
- Soft skill
Keragaman program ini menjadi penting karena kebutuhan perusahaan tidak pernah benar-benar seragam. Tim operasional mungkin membutuhkan training K3. Supervisor membutuhkan leadership. Tim procurement membutuhkan kemampuan pengadaan dan negosiasi. Bagian quality membutuhkan ISO. HR membutuhkan program pengembangan SDM.
Sementara perusahaan yang bergerak di industri tertentu membutuhkan kompetensi yang lebih spesifik.
Dengan banyaknya kebutuhan tersebut, memiliki akses kepada satu ekosistem training yang lebih luas dapat membantu perusahaan menyederhanakan proses pengembangan kompetensi.
Yang Dibeli Bukan Hanya Trainer
Ketika perusahaan menggunakan jasa training profesional, sebenarnya ada beberapa hal yang dibeli sekaligus.
- Pertama, keahlian.
Perusahaan mendapatkan akses kepada trainer atau tenaga profesional yang memiliki pengalaman di bidang tertentu.
- Kedua, waktu.
Perusahaan tidak harus membangun seluruh sistem pelatihan dari awal.
- Ketiga, materi dan metode.
Training profesional membutuhkan materi yang relevan dan metode yang sesuai dengan karakter peserta.
- Keempat, fleksibilitas.
Kebutuhan perusahaan dapat berubah dan program dapat disesuaikan dengan kondisi yang tersedia.
- Kelima, fokus.
HR dapat lebih fokus mengelola strategi SDM daripada terus-menerus mencari provider untuk setiap kebutuhan baru.
Inilah alasan mengapa konsep membeli waktu menjadi semakin relevan.
Mengapa Menunggu Bisa Menjadi Lebih Mahal?
Menunggu sering terlihat sebagai pilihan yang paling aman. Training bisa dilakukan bulan depan. Anggaran bisa dimasukkan ke periode berikutnya.
Namun, kebutuhan bisnis tidak selalu menunggu.
Ketika competency gap dibiarkan terlalu lama, dampaknya bisa muncul dalam bentuk:
- pekerjaan menjadi lebih lambat
- kesalahan meningkat
- supervisor kurang siap
- karyawan kesulitan beradaptasi
- peluang bisnis bisa tertunda
| Pola Lama | Pola yang Lebih Fleksibel |
|---|---|
| Cari provider setiap ada kebutuhan | Memiliki training partner |
| Membeli training satu per satu | Mengakses program sesuai kebutuhan |
| Fokus pada harga training | Mempertimbangkan biaya waktu |
| Training ketika sudah mendesak | Pengembangan kompetensi berkelanjutan |
| Banyak proses administrasi berulang | Proses lebih terintegrasi |
| Fokus pada jumlah training | Fokus pada kompetensi |
Jadi, yang perlu dihitung bukan hanya biaya training, tetapi juga biaya dari menunggu.
Ketika competency gap dibiarkan terlalu lama, dampaknya bisa muncul dalam bentuk yang berbeda.
- Pekerjaan menjadi lebih lambat.
- Kesalahan meningkat.
- Supervisor kesulitan mengelola tim.
- Prosedur tidak dijalankan dengan benar.
- Karyawan kurang siap menghadapi perubahan.
- Perusahaan kehilangan kesempatan karena tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan.
Karena itu, biaya menunggu terkadang jauh lebih besar daripada biaya menggunakan profesional lebih awal. Tentu tidak semua kebutuhan harus langsung ditangani melalui training.
Tetapi ketika masalahnya memang competency gap, menunda pengembangan kompetensi juga memiliki konsekuensi.
Profesional Dibutuhkan Ketika Masalah Menjadi Spesifik
Semakin kompleks sebuah perusahaan, semakin spesifik pula kebutuhan kompetensinya. Karyawan tidak hanya membutuhkan pengetahuan umum. Mereka membutuhkan kemampuan yang relevan dengan pekerjaan.
Seorang safety officer membutuhkan kompetensi yang berbeda dengan procurement officer. Seorang supervisor membutuhkan kemampuan yang berbeda dengan engineer. Seorang HR manager memiliki kebutuhan yang berbeda dengan project manager.
Karena itu, training yang efektif harus memiliki relevansi.
HSP Academy memiliki berbagai kategori training yang dapat digunakan perusahaan untuk menyesuaikan program dengan kebutuhan kompetensi masing-masing. Selain itu, katalog training HSP Academy menyediakan pilihan program dengan format offline, online, dan blended untuk program tertentu. Katalog Training HSP Academy
Pilihan metode menjadi semakin penting karena pola kerja perusahaan juga berubah.
Tidak Semua Training Harus Dilakukan di Ruang Kelas
Dunia kerja sekarang tidak selalu berada dalam satu ruangan. Ada perusahaan yang memiliki kantor pusat dan banyak cabang. Ada tim proyek yang bekerja di lokasi berbeda. Ada karyawan yang bekerja secara hybrid. Ada pula pekerjaan yang mengharuskan karyawan berada di lapangan. Karena itu, metode pembelajaran harus mengikuti kebutuhan.
Untuk materi tertentu, online bisa lebih praktis. Untuk materi yang membutuhkan praktik, diskusi intensif, atau simulasi, offline bisa lebih tepat.
Blended learning juga dapat menjadi pilihan ketika perusahaan membutuhkan kombinasi keduanya, yang penting bukan memilih metode yang sedang populer. Yang penting adalah memilih metode yang paling sesuai dengan tujuan training.
Training Bukan Sekadar Mengumpulkan Sertifikat
Sertifikasi memiliki tempat penting dalam dunia profesional. Untuk beberapa pekerjaan dan industri, sertifikasi bahkan menjadi bagian dari kebutuhan kompetensi dan kepatuhan.
Namun perusahaan sebaiknya tidak berhenti pada jumlah sertifikat. Karena memiliki sertifikat tidak otomatis berarti seseorang mampu menerapkan seluruh kompetensinya dalam pekerjaan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa yang berubah setelah training?
Apakah karyawan lebih memahami pekerjaannya?
Apakah supervisor lebih mampu memimpin?
Apakah prosedur keselamatan lebih dipahami?
Apakah kualitas pekerjaan meningkat?
Apakah kesalahan dapat dikurangi?
Apakah karyawan lebih siap menghadapi tuntutan pekerjaan?
Jawaban atas pertanyaan tersebut jauh lebih penting untuk menilai keberhasilan training.
Jangan Mengejar Banyak Training, Kejar Kompetensi
Konsep training tanpa batas juga tidak boleh membuat perusahaan terjebak dalam satu kesalahan: mengejar jumlah.
Banyak training bukan berarti organisasi otomatis semakin kompeten.
Yang dibutuhkan adalah training yang tepat.
Karena itu, Training Needs Analysis (TNA) tetap menjadi bagian penting.
Perusahaan perlu melihat:
- Apa kebutuhan bisnis?
- Kompetensi apa yang kurang?
- Siapa yang membutuhkan pengembangan?
- Program apa yang paling sesuai?
- Bagaimana hasil training akan diterapkan?
Dengan cara ini, training menjadi lebih terarah.
Perusahaan tidak sekadar mengirim karyawan mengikuti pelatihan karena programnya tersedia.
Perusahaan mengirim mereka karena memang ada kebutuhan.
HR Perlu Membeli Waktu untuk Pekerjaan yang Lebih Strategis
Salah satu alasan utama perusahaan menggunakan training partner adalah sederhana:
HR tidak bisa mengerjakan semuanya sendiri.
HR memiliki banyak tanggung jawab.
Mulai dari recruitment, employee relations, performance management, talent management, payroll, hingga pengembangan organisasi.
Jika sebagian besar waktu habis untuk pekerjaan administratif yang sebenarnya dapat disederhanakan, HR akan semakin sulit fokus pada strategi.
Menggunakan partner profesional bukan berarti HR kehilangan kendali.
Justru sebaliknya.
HR tetap menentukan kebutuhan dan tujuan.
Partner membantu menyediakan sumber daya untuk menjalankannya.
Dengan begitu, HR dapat memindahkan fokus dari:
“Siapa provider yang harus saya cari?”
menjadi:
“Kompetensi apa yang harus dimiliki organisasi?”
Itulah perubahan yang lebih bernilai.
Membeli Waktu Bukan Berarti Boros
Ada anggapan bahwa menggunakan jasa profesional berarti menambah biaya.
Padahal tidak selalu demikian.
Dalam banyak situasi, menggunakan tenaga profesional justru dapat menjadi cara untuk menghindari biaya yang lebih besar.
Misalnya perusahaan membutuhkan kompetensi tertentu hanya beberapa kali dalam setahun.
Membangun seluruh sumber daya internal untuk kebutuhan yang sangat spesifik mungkin tidak efisien.
Sebaliknya, menggunakan profesional ketika diperlukan dapat menjadi pilihan yang lebih masuk akal.
Konsepnya sederhana:
Tidak semua sumber daya harus dimiliki. Sebagian dapat diakses ketika dibutuhkan.
Dan di era bisnis yang bergerak cepat, fleksibilitas tersebut semakin penting.
Perusahaan Modern Membeli Kecepatan
Perubahan pola ini sebenarnya bukan hanya terjadi pada training.
Kita melihatnya di berbagai bidang.
Perusahaan menggunakan cloud daripada membeli seluruh infrastruktur teknologi.
Menggunakan konsultan daripada membangun semua keahlian khusus secara internal.
Menggunakan jasa profesional daripada merekrut untuk setiap kebutuhan yang muncul.
Tujuannya sama:
bergerak lebih cepat tanpa harus membangun semuanya dari nol.
Training juga bergerak ke arah tersebut.
Perusahaan membutuhkan akses terhadap pengetahuan dan tenaga profesional ketika kompetensi tersebut dibutuhkan.
Bukan berarti internal team menjadi tidak penting.
Justru internal team tetap menjadi pusat pengembangan.
Tetapi training partner dapat menjadi perpanjangan kemampuan perusahaan.
Jadi, Membeli Waktu atau Menunggunya?
Pada akhirnya, pilihan ini kembali kepada masing-masing perusahaan. Jika kebutuhan kompetensi belum mendesak, perusahaan mungkin dapat merencanakannya dengan baik.
Tetapi jika kebutuhan sudah muncul dan berdampak terhadap pekerjaan, menunggu bukan selalu pilihan terbaik.
Pertanyaannya bukan apakah perusahaan harus selalu menggunakan jasa profesional.
Pertanyaannya adalah:
Kapan lebih efisien untuk menggunakan profesional daripada menunggu sampai sumber daya internal tersedia?
Inilah cara berpikir yang mulai dibutuhkan perusahaan modern. Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan menambah orang. Tidak semua kebutuhan harus menunggu anggaran berikutnya. Tidak semua kompetensi harus dibangun dari nol.
Kadang-kadang, solusi paling efisien adalah membeli akses kepada orang yang sudah memiliki kompetensi tersebut.
HSP Academy: Akses Training untuk Kebutuhan Perusahaan
Bagi perusahaan yang membutuhkan pengembangan kompetensi dalam berbagai bidang, HSP Academy menawarkan beragam program training dan konsultasi profesional.
Mulai dari training K3, sertifikasi BNSP, Kemnaker, ISO, HRD, procurement, management, leadership, konstruksi, pertambangan, minyak dan gas, rumah sakit, food safety, marketing, hingga soft skill.
Dengan pilihan program yang luas, kebutuhan training dapat disesuaikan dengan bidang pekerjaan dan kebutuhan perusahaan.
Untuk organisasi yang membutuhkan fleksibilitas lebih besar dalam mengelola pengembangan kompetensi, konsep layanan training tanpa batas kuota juga dapat menjadi salah satu pendekatan yang menarik untuk dipertimbangkan.
Bukan untuk mengejar jumlah training.
Tetapi untuk memastikan ketika kebutuhan kompetensi muncul, perusahaan tidak harus selalu kembali ke titik nol.
Sekarang, kecepatan menjadi semakin penting.
Ketika sebuah perusahaan dapat memperoleh tenaga profesional pada saat dibutuhkan, waktu yang seharusnya digunakan untuk mencari, menyiapkan, dan membangun semuanya dari awal dapat dialihkan untuk pekerjaan yang lebih penting.
Karena itu, pertanyaannya sederhana:
Lebih memilih membeli waktu dan profesional, atau menunggu waktu dan profesional?
Bagi perusahaan yang ingin bergerak cepat, jawabannya bukan selalu tentang membeli lebih banyak.
Kadang jawabannya adalah membeli akses yang tepat pada waktu yang tepat.
Dan dalam pengembangan kompetensi, memiliki training partner yang dapat mendukung kebutuhan perusahaan secara fleksibel dapat menjadi salah satu cara untuk melakukan hal tersebut.
HSP Academy — membantu perusahaan mendapatkan akses terhadap pengembangan kompetensi yang dibutuhkan, ketika kebutuhan tersebut muncul.
